Mushaf-Mushaf
Al-Qur’an Modern
A.
Pendahuluan
Hampir
semua orang Islam di rumah menyimpan al-Qur’an dan pasti membacanya. Hal
ini terbukti karena Indonesia merupakan Negara dengan mayoritas penduduknya
beragama Islam. Di Negara ini telah ada beberapa orang yang ahli membaca
al-Qur’an bahkan juga ahli menghafal al-Qur’an.
Rasulullah
SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari –
Muslim). Mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya adalah
pekerjaan yang mulia sehingga mendapatkan predikat terbaik dari Allah dan
Rasul-Nya. Bahkan, satu huruf pun yang dibaca menjadi kebaikan yang
dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Andai saja seseorang mampu membaca,
menghafal, dan mengamalkannya tentu ia akan mendapatkan pahala yang sangat
besar.
Namun
praktiknya, sebagian orang sering mengalami kesulitan dalam mempelajari
al-Qur’an, terutama bagi pemula. Ada berbagi macam faktor yang mempengaruhi,
antara lain: minimnya penguasaan bahasa Arab, sistematika susunan ayat-ayat
al-Qur’an yang berpindah-pindah tema, dan masih sedikitnya ayat-ayat yang telah
dihafal. Kesulitan-kesulitan ini bisa menjadikan seseorang enggan belajar
al-Qur’an. Tentu ini adalah problema yang mesti diselesaikan dan dicari
solusinya agar belajar al-Qur’an tidak menjadi beban.
Di
era modern ini, sudah banyak media yang membuat al-Qur’an di dalamnya. Apalagi
di zaman perkembangan teknologi yang begitu pesat ini. Dari awalnya yang hanya
mushaf al-Qur’an hingga adanya percetakan al-Qur’an. Kemudian, ada yang
berbentuk kaset, VCD, dan MP3 murrotal al-Qur’an. Ini merupakan solusi yang
sangat tepat untuk memecahkan masalah akibat sulit membaca al-Qur’an. Dengan
ini diharapakn semua umat Islam bisa membaca al-Qur’an dengan benar.
B.
Pembahasan
A.
Pengumpulan
Dalam Rekaman dan Pendapat Para Ulama Tentang Transfer Bacaan Bil Lisan
Yang dimaksud
pengumpulan lewat rekaman adalah pelestarian al-Qur’an dengan cara merekam
dalam pita suara.1
Pendapat para
ulama tentang transfer bacaan bil lisan:
1)
Bencana
terbesar adalah berguru kepada lembaran-lembaran kasar.
2)
Jangan kalian
mempelajari al-Qur’an dari mushafku, juga janganlah mengambil ilmu dari
suhufku.
3)
Barang siapa
mendalami agama lewat isi kitab-kitab maka hukum-hukum menjadi sempit. (Imam
Syafi’i)
4)
Saya telah
menghafalkan (al-Qur’an) dari Rasulullah SAW sebanyak kurang lebih 70 bagian.
(Ibnu Mas’ud)
Dari uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa para ulama lebih senang menerima al-Qur’an secara
lisan bukan tulisan. Hal ini disebabkan, dulu nabi Muhammad SAW juga menerima
wahyu dari malaikat jibril melalui lisan.
Rasulullah SAW juga mengutus orang-orang
yang ahli baca al-Qur’an (Qurra’) untuk mengajarkan bacaan al-Qur’an kepada
orang yang baru masuk islam.
Di
era modern sekarang ini, banyak bacaan al-Qur’an yang dikumpulkan dalam
rekaman-rekaman, misalnya dalam bentuk MP3, CD, kaset, dll. Ini semua dilakukan
untuk lebih menguatkan hukum-hukum bacaan yang ada di dalam al-Qur’an.
B.
Pengertian dan
Sejarah Mushaf Murratal
1.
Pengertian:
Mushaf
Secara istilah
berarti kumpulan lembaran-lembaran al-Qur’an dengan susunan ayat dan surat
dalam bentuk yang telah diterima ummat Islam (yang bersumber) dari Nabi
Muhammad SAW.
Murratal
Secara istilah
berarti bacaan yang tenang, keluarnya huruf dari makhraj sesuai dengan
semestinya yang disertai renungan makna.
Mushaf Murratal
adalah bentuk rekaman yang memperdengarkan al-Qur’an dengan peralatannya berupa
perangkat rekaman modern, sejumlah kaset, dan piringan hitam.
Ada 4 tingkatan
dalam bacaan:
a)
At-Tahqiq
Lebih tenang,
lebih lamban, lebih banyak digunakan dalam pengajaran al-Qur’an.
b)
At-Tartil
Bacaan dengan
lambat dan tenang.
c)
At-Tadwir
Bacaan antara
tartil dan hard.
d)
Al-Hadr
Bacaan cepat,
tapi dengan memperhatikan hukum-hukum
bacaan
2.
Sejarah Mushaf
Murratal
Pada
suatu sore, tanggal 14 Ramadan 1378 H di Kairo dibawah kepemimpinan Ustad Labib
as-Sa’id, pertemuan pertama dalam Organisasi Pelestarian al-Qur’an diadakan untuk
menkaji sebuah tema. Dan saat itu pulalah disepakati AD/ART dari Organisasi
tersebut.2
Saat
mulai produksi memang banyak kendala, baik materi maupun keilmuan. Namun itu
semua dapat diatasi berkat pertolongan Allah. Produksi pertama dimulai pada
tahun 1379 H dan selesai pada bulan Muharram 1381 H dengan bacaan Syaikh Mahmud
Khalil al-Husheri. Kemudian tahun 1382 H diiringi rekaman bacaan Abu’Amir
dengan riwayat ad-Dauri.
C.
Latar Belakang
Pemikiran Pembuatan Rekaman Al-Qur’an dan Tata Cara Rekaman
1.
Latar Belakang
Penyebab
pemikiran pembuatan rekaman al-Qur’an:
a)
Tuntutan pelestarian
al-Qur’an, caranya:
b)
Memudahkan
memahami al-Qur’an serta menghafalnya, karena:
c)
Pentingnya
mempertahankan al-Qur’an dalam menghadapi para pencela dan penyelewengan
al-Qur’an.
d)
Menolong mushaf
Ustman yang telah mempersatukan umat Islam.
e)
Menghindari
penyimpangan terhadap al-Qur’an.
f)
Penyebaran
bahasa al-Qur’an dan memperkokoh persatuan umat Islam.
2.
Tata Cara
Rekaman
a)
Memilih qari’ dengan
hati-hati.
b)
Mengulang bacaan
agar mendapat hasil yang sempurna.
Contoh qari’
yang terlibat dalam rekaman:
Daftar Pustaka
Fahd bin
Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an: Studi Kompleksitas Al-Qur’an, Yogyakarta:
Titian Ilahi Press, 1996, h. 174.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar