Rabu, 13 Juni 2012

metode periwayatan hadis


I.                   Metode Periwayatan Hadist:
A.    Periwayatan Hadis bi al-Lafẓiy dan bi al-Ma’na
Periwayatan Hadis bi al- lafziy adalah cara periwayatan hadis yang disampaikan sesuai dengan lafal yang disabdakan oleh Nabi saw. secara persis tanpa ada perubahan sedikitpun pada tatanan kalimatnya. Atau dengan kata lain, meriwayatkan hadis dengan lafal yang masih asli dari Nabi saw. Riwayat hadis dengan lafal ini sebenarnya tidak ada persoalan, karena sahabat menerima langsung dari Nabi baik melalui perkataan maupun perbuatan, dan pada saat itu sahabat langsung menulis atau menghafalnya.
Ciri-ciri hadis yang memang harus diriwayatkan dengan lafal ini      antara  lain:
 1. Lafal-lafal ibadah /ta’abbudiyyah (azan, zikir, doa, syahadat,dll).
 2. Jawāmi’ al-kalimah /ungkapan-ungkapan Nabi saw yang sarat makna (sabda Nabi saw tentang umat Islam).
 3. Masalah aqidah (dzat dan sifat Allah, rukun Islam, rukun iman, dll).
Periwayatan bi al-ma’na adalah periwayatan hadis dengan maknanya saja sedagkan lafalnya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkan. Dengan kata lain, apa yang diungkapkan oleh Rasulullah saw hanya dipahami maksudnya saja, lalu disampaikan oleh para sahabat dengan lafal  mereka sendiri. Hal ini disebabkankan para sahabat memiliki kualitas daya ingatan yang beragam, ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Di samping itu, kemungkinan masanya sudah lama sehingga yang masih diingat hanya maksudnya sementara apa yang diucapkan Nabi sudah tidak diingatnya lagi.
Meriwayatkan hadis secara makna ini hanya diperbolehkan ketika hadis-hadis belum terkodifikasi. Adapun hadis-hadis yang sudah terhimpun dan dibukukan dalam kitab-kitab tertentu (seperti sekarang), tidak diperbolehkan merubahnya dengan lafal/matan yang lain meskipun maknanya tetap tanpa ada perubahan.

B.     Metodologi al-Taḥammul wa al-Adāʻ Hadis
Pengertian al-taḥammul menurut bahasa adalah “membebankan suatu urusan kepadanya”, sedangkan menurut istilah adalah mengambil sebuah hadis dari seorang guru dengan cara atau metode tertentu (sebagaimana yang akan dibahas selanjutnya).
      Para ulama membagi tata cara periwayatan hadis menjadi 8 ragam:
1.      Metode Al-Sama’
Metode Al-Sama’ adalah mendengar langsung lafal hadis dari guru hadis (Al-Syaikh) dengan menggunakan istilah :
a. 
b.
   Syarat:
→ Sanat yang mengandung huruf  tidak terdapat penyembunyian informasi.
→ Antara periwayat-periwayat, dimungkinkan terjadi pertemuan.
→ Periwayatnya harus orang-orang yang dipercaya.
2.      Metode Al-Qira’ah
            Yaitu seorang murid membacakan hadis dihadapan guru. Dalam metode ini seorang guru dapat mengoreksi hadis yang dibacakan murid. Istilah yang dipakai adalah: Akhbaranā, atau ḥaddathanā qirā’atan ‘alayh.
               Syarat :
            Guru telah hafal hadist.
            Guru memegang kitab yang dibaca murid.

3.       Metode Al-Ijazah
Yaitu pemberian ijin seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis tanpa membacakan hadis satu per satu.  Istilah yang dipakai adalah: Anba’anā, akhbaranā ijāzatan atau ḥaddathanā ijāzatan.
·         Unsur-unsur metode Al-Ijazah:
→Mujiez
Yaitu syaikh yang memberikan ijazah.
→Mujaz
Yaitu syaikh yang menerima ijazah.
→Mujas Bihi
Yaitu kitab atau juz dengan seumpamanya.
→Lafadh Ijazah
Ibarat yang menunjukkan kepada kelainan periwayatan.

·         Macam-macam metode Al-Ijazah
a.       Ijazah Khash li Khash
Seseorang syakhih menentukan orang dan menentukan kitab yang di maksud itu.
Contoh :
b.      Ijazah Khash Bi’Aam
Menentukan orang yang memberikan ijazah dengan tidak menentukan kitab-kitab yang diijazahkan.
Contoh :
c.       Ijazah ‘Aam Bi’Aam
Tidak menentukan orang yang menerima ijazah dan tidak menentukan hadist-hadist yang diijazahkan.
Contoh :
d.      Ijazah Mu’aiiyan Bi Majhul
Mengijazahkan kepada orang yang tertentu kitab-kitab yang tidak di tentukan.
Contoh:
e.       Ijazah orang yang tidak dikenal dengan diberikan syarat.
Contoh:
f.       Ijazah Lil Ma’dum
Memberi ijazah kepada orang yang belum ada.
Contoh:
g.      Mengijazahkan apa yang dia sendiri tidak menerimanya dari guru.
Contoh:
h.      Ijazatul Mujaaz
Mengijazahkan apa yang kita terima secara ijazah.
                  Contoh:

Lafadz yang sering digunakan


4.      Metode Al-Munawalah
·         Al-Munawalah ada dua macam :
a. Al-Munawalah yang disertai dengan ijazah.
 Ini tingkatannya paling tinggi di antara macam- macam ijazah secara muthlaq. Seperti jika seorang syaikh memberikan kitabnya kepada sang murid, lalu mengatakan kepadannya, "Ini riwayatku dari si fulan, maka riwayatkanlah dariku". Kemudian buku tersebut dibiarkan bersamanya untuk dimiliki atau dipinjamkan untuk disalin. Maka diperbolehkan meriwayatkan dengan seperti ini, dan tingkatannya lebih rendah daripada as-sama' dan al-qira'ah.
b. Al-Munawalah yang tidak diiringi ijazah.
Seperti jika seorang syaikh memberikan kitabnya kepada sang murid dengan hanya mengatakan : "Ini adalah riwayatku". Yang seperti ini tidak boleh diriwayatkan berdasarkan pendapat yang shahih.
Lafadh-lafadh yang dipakai dalam menyampaikan hadits atau riwayat yang diterima dengan jalan munawalah ini adalah jika si perawi berkata : nawalanii wa ajazanii, atau haddatsanaa munawalatan wa ijazatan, atau akhbarana munawalatan.

5.      Metode Al-Kitabah
Yaitu seorang syaikh menulis sendiri atau dia menyuruh orang lain menulis riwayatnya kepada orang yang hadirs di tempatnya atau yang tidak hadir di situ.
·         Kitabah ada 2 macam :
a.       Kitabah yang disertai dengan ijazah, seperti perkataan syaikh,"Aku ijazahkan kepadamu apa yang aku tulis untukmu", atau yang semisal dengannya. Dan riwayat dengan cara ini adalah shahih karena kedudukannya sama kuat dengan munaawalah yang disertai ijazah.
b.       Kitabah yang tidak disertai dengan ijazah, seperti syaikh menulis sebagian hadits untuk muridnya dan dikirimkan tulisan itu kepadanya, tapi tidak diperbolehkan untuk meriwayatkannya. Di sini terdapat perselisihan hukum meriwayatkannya. Sebagian tidak memperbolehkan, dan sebagian yang lain memperbolehkannya jika diketahui bahwa tulisan tersebut adalah karya syaikh itu sendiri.

6.      Metode Al-I'lam (memberitahu)
Yaitu seorang syaikh memberitahu seorang muridnya bahwa hadits ini atau kitab ini adalah riwayatnya dari si fulan, dengan tidak disertakan ijin untuk meriwayatkan daripadanya. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meriwayatkan dengan cara al-I'lam. Sebagian membolehkan dan sebagian yang lain tidak membolehkannya.
Ketika menyampaikan riwayat dengan cara ini, si perawi berkata : A'lamanii syaikhi (guruku telah memberitahu kepadaku).
7.      Metode Al-Washiyyah (mewasiati)
Yaitu seorang syaikh mewasiatkan di saat mendekati ajalnya atau dalam perjalanan, sebuah kitab yang ia wasiatkan kepada sang perawi.
Riwayat yang seorang terima dengan jalan wasiat ini boleh dipakai menurut sebagian ulama, namun yang benar adalah tidak boleh dipakai.
Ketika menyampaikan riwayat dengan wasiat ini perawi mengatakan : Aushaa ilaya fulaanun bi kitaabin  (si fulan telah meqasiatkan kepadaku sebuah kitab), atau haddatsanii fulaanun washiyyatan (si fulan telah bercerita kepadaku dengan sebuah wasiat).
8.      Metode Al-Wijaadah (mendapat)
Yaitu seorang perawi mendapat hadits atau kitab dengan tulisan seorang syaikh dan ia mengenal syaikh itu, sedang hadots- haditsnya tidak pernah
 didengarkan ataupun ditulis oleh si perawi.
Wijadah ini termasuk hadits munqathi', karena si perawi tidak menerima sendiri dari orang yang menulisnya.




II.                METODE MENGAJARKAN HADIS
Dalam mengajarkan hadis ada beberapa metode yang dipakai saat itu:
a.       Mengajarkan hadis secara lisan
b.      Membacakan hadis dari suatu kitab
c.       Metode soal jawab
d.      Metode imla’I 

DAFTAR PUSTAKA

Ash-shiddieqy , T.M Hasbi . Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis jilid II . 1981 . (Jakarta :     N.V Bulan Bintang)
Ash-shiddieqy , T.M Hasbi . Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis . 1994 . (Jakarta : N.V Bulan Bintang)
Assa’idi , Sa’adullah . Hadis-hadis Sekte . 1966 . (Yogyakarta:PT Pustaka Pelajar)
Azami, M.M.  Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya . 1967 . (Jakarta:PT Pustaka Firdaus)
Mukri , Barnawi . Kontekstualisasi Hadis Rosulullah . 2005 . (Yogyakarta : Ideal Press)



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar